Posted by: albatavi | April 2, 2010

Dua Saudara

Setiap mendengar kata sore, yang teringat olehku adalah akhir. Akhir dari sebuah hari yang panjang, dari aktifitas harian yang melelahkan. Sore memang bukan sebuah akhir yang nyata. Sore bisa menjadi garis waktu awal dari sebuah aktifitas nokturnal. Ya, segala macam aktifitas. Tapi bagiku, aktifitas yang terpikirkan adalah istirahat dan bekerja. Istirahat untuk melepas penat siang  hari, menyelesaikan pekerjaan yang taka tau belum terselesaikan tadi siang.

Bila berpikir tentang sore, maka tak bisa kita terpisah dari membicarakan malam. Sore dan malam, seperti dua saudara kembar tapi tidak identik. Atau seperti sahabat karib yang tak terpisahkan. Malam memang gelap dan menyeramkan. Malam memang gelap, tapi terang oleh banyak bintang, satu buah bulan, serta ribuan kerlip lampu-lampu gedung perkotaan. Malam memang seram, tapi penuh keindahan akan misteri yang tak terungkap dan tak bertepi.

Kita sudah berbicara tentang sore dan malam. Sangatlah susah untuk memisahkan sore dan malam dengan pagi dan siang. Tapi belumlah saatnya kita berbicara tentang pagi dan siang. Belum, lain waktu kita lanjutkan.

Advertisements
Posted by: albatavi | August 5, 2009

postingan di pagi hari

selalu tidak bisa melihat apa yang ada dibalik setiap peristiwa yang terjadi. selalu tidak berusaha untuk paham, untuk mengerti mengapa hal-hal itu kita alami dan bukan orang lain. selalu bertanya mengapa kita tak seperti si anu, tak bisa seperti si itu. bertanya terus mengenai bagaimana sistematika yang Tuhan buat dalam sistem yang kita sebut takdir.
manusia selalu heran dengan apa yang dilakukan oleh Tuhan. sejarah membuktikannya, sejarah memberikan kita bukti bagaimana manusia selalu mempertanyakan cara kerja Tuhan. seperti Musa yang tak bisa berhenti bertanya kepada Khidir tentang apa yang dilakukannya. tentang apa yang Tuhan perintahkan kepada Khidir.
selalu menyalahkan Tuhan atas kecelakaan, kemalangan, keburukan, kesusahan yang menimpa tanpa mau melihat kenapa terjadi semua itu. lalu lupa lagi ketika yang datang nikmat, ketika yang terjadi adalah kebahagiaan. tak jarang, bahkan, sampai lupa pada siapa itu semua berpulang.
***
saat bersalah dan kita sadar telah melakukan kesalahan, pada dasarnya kita akan berusaha menyangkal itu terjadi karena kita. kesalahan yang ada merupakan kesalahan kita. seakan sudah menjadi naluri dasar bagi manusia untuk melakukan hal seperti itu. bahkan kalaupun ada orang lain yang tahu, kita akan berusaha untuk berkelit dari kesalahan yang ada.
mengapa kita tidak sekali-kali secara naluriah dan berani untuk berterus terang bahwa kesalahan yang ada disebabkan oleh kita, diri kita. memberanikan diri untuk mengakui bahwa apa yang telah kita lakukan salah, walau mungkin cuma sebentar. cobalah untuk jujur,seperti yang banyak orang bilang cobalah jujur walaupun itu pahit, atau bahwa kebenaran memang tidak selalu asyik dan menyenangkan.
bahkan yang terbaik diantara kita punya sisi yang lain. sisi yang pernah melakukan kesalahan, kejahatan, kebodohan, keburukan. tidak setiap orang suci kecuali Tuhan sudah menjaminnya, dan hanya segelintir orang yang begitu.
dunia tidak hanya terbagi menjadi hitam-putih, baik-jahat, baik-buruk, orang baik-orang jahat. bukan, dunia bukan sebuah hal yang pasti seperti itu. kalau dunia serba pasti, maka tak ada einstein yang kita kenal. dunia ini lebih kompleks dengan jutaan warna atau bahkan trilyunan warna yang ada. kejahatan disatu sisi adalah kejahatan, tapi mungkin disisi lain yang tidak kita ketahui atau pahami kejahatan adalah sesuatu yang baik, malah mungkin kebaikan itu sendiri.
***
jangan terlalu naif! bahkan aku yang menulis note ini mungkin merasa bijak, tapi yang kulakukan hanyalah menulis. sedangkan menulis bukanlah sesuatu yang aneh atau patut dicemooh, hargai pikiran orang lain dan kita akan menerima sebagaimana mestinya itu bertimbal balik.
selalu tidak bisa melihat apa yang ada dibalik setiap peristiwa yang terjadi. selalu tidak berusaha untuk paham, untuk mengerti mengapa hal-hal itu kita alami dan bukan orang lain. selalu bertanya mengapa kita tak seperti si anu, tak bisa seperti si itu. bertanya terus mengenai bagaimana sistematika yang Tuhan buat dalam sistem yang kita sebut takdir.
manusia selalu heran dengan apa yang dilakukan oleh Tuhan. sejarah membuktikannya, sejarah memberikan kita bukti bagaimana manusia selalu mempertanyakan cara kerja Tuhan. seperti Musa yang tak bisa berhenti bertanya kepada Khidir tentang apa yang dilakukannya. tentang apa yang Tuhan perintahkan kepada Khidir.
selalu menyalahkan Tuhan atas kecelakaan, kemalangan, keburukan, kesusahan yang menimpa tanpa mau melihat kenapa terjadi semua itu. lalu lupa lagi ketika yang datang nikmat, ketika yang terjadi adalah kebahagiaan. tak jarang, bahkan, sampai lupa pada siapa itu semua berpulang.
***
saat bersalah dan kita sadar telah melakukan kesalahan, pada dasarnya kita akan berusaha menyangkal itu terjadi karena kita. kesalahan yang ada merupakan kesalahan kita. seakan sudah menjadi naluri dasar bagi manusia untuk melakukan hal seperti itu. bahkan kalaupun ada orang lain yang tahu, kita akan berusaha untuk berkelit dari kesalahan yang ada.
mengapa kita tidak sekali-kali secara naluriah dan berani untuk berterus terang bahwa kesalahan yang ada disebabkan oleh kita, diri kita. memberanikan diri untuk mengakui bahwa apa yang telah kita lakukan salah, walau mungkin cuma sebentar. cobalah untuk jujur,seperti yang banyak orang bilang cobalah jujur walaupun itu pahit, atau bahwa kebenaran memang tidak selalu asyik dan menyenangkan.
bahkan yang terbaik diantara kita punya sisi yang lain. sisi yang pernah melakukan kesalahan, kejahatan, kebodohan, keburukan. tidak setiap orang suci kecuali Tuhan sudah menjaminnya, dan hanya segelintir orang yang begitu.
dunia tidak hanya terbagi menjadi hitam-putih, baik-jahat, baik-buruk, orang baik-orang jahat. bukan, dunia bukan sebuah hal yang pasti seperti itu. kalau dunia serba pasti, maka tak ada einstein yang kita kenal. dunia ini lebih kompleks dengan jutaan warna atau bahkan trilyunan warna yang ada. kejahatan disatu sisi adalah kejahatan, tapi mungkin disisi lain yang tidak kita ketahui atau pahami kejahatan adalah sesuatu yang baik, malah mungkin kebaikan itu sendiri.
***
jangan terlalu naif! bahkan aku yang menulis note ini mungkin merasa bijak, tapi yang kulakukan hanyalah menulis. sedangkan menulis bukanlah sesuatu yang aneh atau patut dicemooh, hargai pikiran orang lain dan kita akan menerima sebagaimana mestinya itu bertimbal balik.
Posted by: albatavi | June 29, 2009

Perenungan Awal Umur 19

Seperti hal linnya yang ada di dunia ini, segalanya terikat pada waktu. Waktu yang menjadi penggerak semua unsure kehidupan di dunia, dengannya semua bias berjalan seperti apa yang kita ketahui. Waktu jugalah yang akan membawa kehidupan kita ini kepada akhir, yang kita ketahui pasti akan kita temui. Entah kapan?
  Yang selalu menjadi pertanyaan bagi umat manusia, tentang waktu. Pertanyaan yang berkenaan tentang awal dan akhir. Kapan sebenarnya waktu nol itu? Waktu dimana semuanya bermulai, awal dari perhitungan waktu yang sedang berjalan saat ini. Lalu pertanyaan tentang kapan waktu yang tengah berjalan ini akan terhenti. Kapan semua ini akan berakhir? Semuanya menjadi pertanyaan yang terus berusaha dicari jawabannya dan dipahami.
Semua dari kita pasti pernah mempertanyakan satu dari dua jenis pertanyaan ini. Entah secara sadar atau tidak, tapi itu yang terjadi dalam hidup kita. Secara naluri, bisa dibilang, setiap manusia akan mempertanyakan jawaban dari pertanyaan awal dan akhir ini.
Tentang pertanyaan awal dari semua ini. Dimanakah kita bisa menemukan jawabannya? Semua berusaha mencarinya, semua kalangan mengajukan jawaban yang berbeda-beda tergantung dasar yang ia punya. Semua berusaha menjawab, dan semua berusaha menerima jawaban yang diberikan. Mencoba memercayai jawaban yang diberikan, mencoba yakin.
Awal dari perputaran waktu yang terjadi sekarang. Bila kita menjawab awalnya adalah saat Tuhan berkata “Jadilah”, beberapa kalangan menyanggahnya dengan mengatakan bahwa jawaban yang diberikan oleh kitab suci tidaklah bisa diterima akal. Bahwa kitab suci hanyalah dongeng dunia yang diciptakan sebagai candu yang bersifat fantasi yang menenangkan. Pada akhirnya tidak ada yang memberikan jawaban yang pasti.
Beralih pada akhir. Kapan akhir dari waktu ini akan terjadi? Besok, sekarang, setahun, dua tahun, atau bahkan tidak berakhir. Semua mencoba untuk mengira-ngira, menerka kapan semua ini akan berakhir. Bahkan ada yang memutuskan untuk mengakhiri waktu oleh dirinya sendiri. Semua mencoba memprediksi apa dan kapan. Semua jawaban pada akhirnya hanya memberikan kekhawatiran bagi mereka yang merasa dunia adalah kesenangan yang abadi.
Pencarian akan jawaban terus saja terjadi, dan mungkin memang kita harus percaya pada kalimat yang menyatakan, “Tidak semua pertanyaan mempunyai jawaban yang pasti.” Atau kalimat, “Setiap pertanyaan tidaklah selamanya tuntas terjawab –dalam kurun  hidup manusia- ada yang memang tak terjawab.”
Seperti hal lainnya yang ada di dunia ini, segalanya terikat pada waktu. Waktu yang menjadi penggerak semua unsur kehidupan di dunia, dengannya semua bisa berjalan seperti apa yang kita ketahui. Waktu jugalah yang akan membawa kehidupan kita ini kepada akhir, yang kita ketahui pasti akan kita temui. Entah kapan?
  Yang selalu menjadi pertanyaan bagi umat manusia, tentang waktu Pertanyaan yang berkenaan tentang awal dan akhir. Kapan sebenarnya waktu nol itu? Waktu dimana semuanya bermulai, awal dari perhitungan waktu yang sedang berjalan saat ini. Lalu pertanyaan tentang kapan waktu yang tengah berjalan ini akan terhenti. Kapan semua ini akan berakhir? Semuanya menjadi pertanyaan yang terus berusaha dicari jawabannya dan dipahami.
Semua dari kita pasti pernah mempertanyakan satu dari dua jenis pertanyaan ini. Entah secara sadar atau tidak, tapi itu yang terjadi dalam hidup kita. Secara naluri, bisa dibilang, setiap manusia akan mempertanyakan jawaban dari pertanyaan awal dan akhir ini.
Tentang pertanyaan awal dari semua ini. Dimanakah kita bisa menemukan jawabannya? Semua berusaha mencarinya, semua kalangan mengajukan jawaban yang berbeda-beda tergantung dasar yang ia punya. Semua berusaha menjawab, dan semua berusaha menerima jawaban yang diberikan. Mencoba memercayai jawaban yang diberikan, mencoba yakin.
Awal dari perputaran waktu yang terjadi sekarang. Bila kita menjawab awalnya adalah saat Tuhan berkata “Jadilah”, beberapa kalangan menyanggahnya dengan mengatakan bahwa jawaban yang diberikan oleh kitab suci tidaklah bisa diterima akal. Bahwa kitab suci hanyalah dongeng dunia yang diciptakan sebagai candu yang bersifat fantasi yang menenangkan. Pada akhirnya tidak ada yang memberikan jawaban yang pasti.
Beralih pada akhir. Kapan akhir dari waktu ini akan terjadi? Besok, sekarang, setahun, dua tahun, atau bahkan tidak berakhir. Semua mencoba untuk mengira-ngira, menerka kapan semua ini akan berakhir. Bahkan ada yang memutuskan untuk mengakhiri waktu oleh dirinya sendiri. Semua mencoba memprediksi apa dan kapan. Semua jawaban pada akhirnya hanya memberikan kekhawatiran bagi mereka yang merasa dunia adalah kesenangan yang abadi.
Pencarian akan jawaban terus saja terjadi, dan mungkin memang kita harus percaya pada kalimat yang menyatakan, “Tidak semua pertanyaan mempunyai jawaban yang pasti.” Atau kalimat, “Setiap pertanyaan tidaklah selamanya tuntas terjawab –dalam kurun  hidup manusia- ada yang memang tak terjawab.”
Posted by: albatavi | May 23, 2009

perenungan

Ketika aku melihat langit, terkadang aku berpikir siang dan malam aku telah berputar melakoni hidup yang Tuhan hamparkan padaku. Sampai nanti aku bertemu malaikat maut, entah di ranjang, entah saatku beribadah, entah di tempat lain yang Tuhan siapkan untukku. Walaupun aku tahu akulah yang harus memilih dimana diantara semua opsi yang telah diberikan Tuhan padaku.

Ketika berpikir tentang hidup yang terus berputar ini, aku selalu berpikir, sudah benarkah aku dalam menjalani hidup yang diberikan Tuhan kepadaku ini. Dan selalu terbayang semua kesalahan yang kulakukan sepanjang nafas ini berhembus dari kedua lubang hidungku. Kemudian aku berpikir, kenapa terus saja kulakukan semua keburukan dan kesalahan yang telah kuperbuat dan ku ketahui bahwa itu salah. Entah mengapa?

terus terpikir, terus terpikir sampai entah mengapa aku sendiri tidak yakin dengan jawaban-jawaban yang telah ku temukan. Keraguan dan keraguanlah yang kemudian terus mengikuti setiap rencana yang ku susun untuk menjalani kehidupan yang masih berjalan di depan mataku ini. Sampai akhirnya aku sampai pada tahap dimana aku mempertanyakan keeksistensian dunia dan seluruhnya.

Terus aku berkontemplasi, terus. Dan belum kutemukan jawaban yang pasti untuk memnuhi semua tanda tanya yang mengisi setiap sel dalam otakku. Aku meneruskan kontemplasi sampai aku tiba di fase aku tidak percaya pada eksistensiku, juga sampai pula aku di tahap aku mempertanyakan Tuhan.

Semuanya bagiku adalah kekosongan dan aku mempertanyakan semuanya. Benarkah dunia ini ada? Tapi Tuhan memang tidak pernah menelantarkan orang mencari diri-Nya. Dari ketiadaan inilah aku meneukan bahwa semuanya di dunia ini adalah kefanaan, dan Tuhan lah bentuk yang nyata, saling melengkapi. Sedangkan manusia apa? Manusia adalah bentuk yang memiliki dua sifat nyata tapi fana. Manusia ada sebagai sebagai wujud yang ada karena manusia diciptakan dari ruh yang berasal dari Tuhan, tapi manusia adalah fana karena “manusia” adalah bentuk yang berada di dunia.

Tuhan menciptakan segala sesuatu dari ketiadaan dan saling berpasangan. Begitulah apa yang ku dapat, mungkin benar mungkin salah. Karena aku masih terus mencari.

Older Posts »

Categories