Posted by: albatavi | May 14, 2009

Dimana

Dimana Kau berada?
Telah dicari olehku kehadiranMu
Dalam setiap sudut bangunan
Yang orang sebut sebagai tempat sujud

Tak terdapat dimanapun
Dalam setiap senti bata dingin yang membentuk dinding
Di tempat yang ku tahu sebagai tempat sujud
Wujud dari eksistensiMu

Lalu tercari di pasar olehku
Di tengah lenguh para buruh
Tetap tak bertemu di tengah tumpukan barang
Di tengah dunia penuh manusia dan setan

Berpindah di gedung sebuah perusahaan
Tak bertemu, hanya tumpukan dokumen-dokumen
Dan birokrasi yang kelewat panjang dan lelah
Di ujung gedung tetap tak bertemu

Di tengah keluarga yang tersenyum di pelataran
Dalam-dalam banyak luka yang terbuka
Banyak retak dan tengkar di dalam
Tak tertemu, tak tertemukan

Lalu di jalan, di tengah ruang umum
Yang terpasang hiasan rambu-rambu
Dan marka-marka
Tak tertemu, dimana diriMu

Kau bilang DiriMu Maha ada
Tak ada dimanapun saat kucari Kau

Selewat senja, kuharap ku dengar kau berkata
“Aku Maha Ada. Tapi kau dan manusia
Sudah tak pernah membiarkanKu Ada.”

Posted by: albatavi | April 16, 2009

Dualisme

Aku tak bisa mendapatkan cinta
Aku tak bisa menemukannya
Karena dalam terang pagi
Kulihat cinta
Karena dalam gelapnya malam
Kudapat cinta

Tak tergenggam dua zat dalam tangan ini
Kugenggam siang dan malam pergi
Kupeluk malam pagi berlari

Aku tak bisa mencintai
Aku tak bisa dicintai
Sebab dalam daratan
Kutanam cinta
Sebab di luasnya lautan
Kujaring cinta

Tak dapat ku berada dalam dua tempat satu waktu
Kuberpijak di daratan
Akupun kering
Kuberenang di lautan
Basahlah diriku

Tak kutemukan cinta
Tak kudapatkan cinta
Karena dalam riuhnya peperangan
Aku merasakan cinta hadir
Karena dalam tenangnya damai
Aku dalam pelukan cinta

Tak mungkin kudiam dalam damai dan berlarian dalam perang
Ketika damai tak kudapatkan rasa ingin perang
Ketika perang tak kulihat setitikpun damai

Dan aku terbelah-belah.

Posted by: albatavi | April 16, 2009

Nasihat dari Al-Batawi

Jangan pernah kau menekan, menahan, atau segala upaya lainnya untuk membelenggu cinta. Ketika kau membendungnya, maka dengan segenap tenaga dia akan memjebol bendungan yang kau buat. Hasrat yang ditekan itulah yang menyebabkan rasa sakit yang sangat.
Kalau kau memenjarakannya, maka dengan segala kelicikannya dia akan menipumu dan keluar dari penjara tahanan hatimu. Seperti seorang napi yang lihai, menipu para sipir dan kabur dari sel tahanan mereka.
Sesuatu yang ditekan dengan menggunakan kekuatan pada akhirnya akan membalikkan dan memberikan tekanan yang berkali lipat lebih besar dari yang diberikan. Begitu adanya cinta, aku berkata. Jangan sekalipun ditekan dengan berbagai cara dan rupa, nanti pada akhirnya dia akan menyerang balik dirimu dengan sakit yang sulit tersembuhkan.
Tidak perlu dipikirkan, ditekan, dikekang, ditahan, dikecilkan cinta itu agar sesuai dengan wadah sempitmu. Biarkan dia mengalir keluar masuk hatimu. Biarkan dia berkembang sesukanya, dia akan memperluas wadahmu yang sempit itu jadi bentangan bumi yang luas tanpa berbatas horizon.
Karena cinta cinta tak bertuan. Dia tak bisa ditahan dan diikat. Kau boleh memilikinya, tapi dia bebas lepas seperti awan.
Bogor, April 2007
Jamaluddin Al-Batawi

Posted by: albatavi | February 26, 2009

Nisbi Maujud

Seluruh tenagaku kini terserap habis
Dalam perenungan panjang
Dalam perjalanan panjang yang sunyi
Dalam pencarian untuk mendapatkan
Apa yang ada dalam impian

Walau tercerabut aku dari akar kemaujudan
Dalam nisbi kini aku gentanyangan
Lalu lebur dan menyatu
Dan mengalir bersama tipisnya udara
Dari rongga-rongga tanah dan kesunyian pegunungan
Lalu kedalaman gorong-grorng dan palung-palung
Aku maujud, aku nisbi, aku padat, aku lebur

Langkah berderap pelan susuri jalan dunia
Mencari lentera terang temani gelapnya Barzakh
Dan di Azali aku mengikat diriku pada sumbu api utama
Di Rahim, aku menyala dalam Dza Kaf Ra
Dan di tiga dunia aku menuju Makhsyar Raja
Di Akhir, pertemuan rakyat dan Maha Raja di alam Akhir

Dengan khusyu’ kita larut dalam huruf ini
Sin Jim Dal
Dan dengan kesungguhan
Ra Kaf ‘Ain
Jadi ‘Abid, jadi rindu yang dalam
Kalau aku tenggelam dalam kemabukkan
Karena kureguk anggur yang dihaturkan
Jangan ganggu aku larut dalam kenisbi-maujudan
Aku makin sujud, makin ruku’
Semakin kau ingin bertemu
Dengan-mu
Dengan Raja yang sudah mengikat diriku

Dan harapanku kali ini
Kau sudi hampiri aku
Di sudut gelap
Di pojokkan ruang
Di tempat aku terpisah dengan-Mu.

« Newer Posts - Older Posts »

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.