Ketika aku melihat langit, terkadang aku berpikir siang dan malam aku telah berputar melakoni hidup yang Tuhan hamparkan padaku. Sampai nanti aku bertemu malaikat maut, entah di ranjang, entah saatku beribadah, entah di tempat lain yang Tuhan siapkan untukku. Walaupun aku tahu akulah yang harus memilih dimana diantara semua opsi yang telah diberikan Tuhan padaku.
Ketika berpikir tentang hidup yang terus berputar ini, aku selalu berpikir, sudah benarkah aku dalam menjalani hidup yang diberikan Tuhan kepadaku ini. Dan selalu terbayang semua kesalahan yang kulakukan sepanjang nafas ini berhembus dari kedua lubang hidungku. Kemudian aku berpikir, kenapa terus saja kulakukan semua keburukan dan kesalahan yang telah kuperbuat dan ku ketahui bahwa itu salah. Entah mengapa?
terus terpikir, terus terpikir sampai entah mengapa aku sendiri tidak yakin dengan jawaban-jawaban yang telah ku temukan. Keraguan dan keraguanlah yang kemudian terus mengikuti setiap rencana yang ku susun untuk menjalani kehidupan yang masih berjalan di depan mataku ini. Sampai akhirnya aku sampai pada tahap dimana aku mempertanyakan keeksistensian dunia dan seluruhnya.
Terus aku berkontemplasi, terus. Dan belum kutemukan jawaban yang pasti untuk memnuhi semua tanda tanya yang mengisi setiap sel dalam otakku. Aku meneruskan kontemplasi sampai aku tiba di fase aku tidak percaya pada eksistensiku, juga sampai pula aku di tahap aku mempertanyakan Tuhan.
Semuanya bagiku adalah kekosongan dan aku mempertanyakan semuanya. Benarkah dunia ini ada? Tapi Tuhan memang tidak pernah menelantarkan orang mencari diri-Nya. Dari ketiadaan inilah aku meneukan bahwa semuanya di dunia ini adalah kefanaan, dan Tuhan lah bentuk yang nyata, saling melengkapi. Sedangkan manusia apa? Manusia adalah bentuk yang memiliki dua sifat nyata tapi fana. Manusia ada sebagai sebagai wujud yang ada karena manusia diciptakan dari ruh yang berasal dari Tuhan, tapi manusia adalah fana karena “manusia” adalah bentuk yang berada di dunia.
Tuhan menciptakan segala sesuatu dari ketiadaan dan saling berpasangan. Begitulah apa yang ku dapat, mungkin benar mungkin salah. Karena aku masih terus mencari.
memang ticil puisi tiada henti
By: gajahbonge on May 23, 2009
at 11:20 pm